Teman Curhat

Ada yg bilang kalau anak psikologi itu teman curhat yg baik. But are we really?

So, let me tell you a bit about myself. I’m an extremely, extremely talkative person. Kata ayah dan mama, dari masih balita aku udah bawel, dari baru bisa ngomong kerjanya udah ngoceh terus. Ngga cuma itu, ngomongnya juga cepet banget, merepet lah istilahnya. Sampai sekarang, aku masih bawel dan masih cepet kalau ngomong. Cuma yaa udah bisa ngerem, udah bisa baca situasi, udah ngerti kapan dan sama siapa aku bisa kaya gitu dan sebaliknya. Aku juga orangnya super terbuka, apa-apa diceritain. Jangankan sama teman dekat, sama teman baru yg baru mulai akrab aja aku udah bisa curhat. You can call me ‘pancing dikit curhat’.

Tapi jangan salah, aku juga hobi banget dengerin cerita dan curhatan orang. It’s fun and in some ways teach me a lot of things about life. Plus aku orangnya kepo dan selalu penasaran sama urusan orang. Waktu SMP dan SMA dulu, kerjaan aku setiap ngobrol sama teman ya kalau ngga ngomongin orang, pasti curhat tentang kehidupan masing-masing. Topiknya, bisa ditebak. Ngga jauh-jauh dari masalah percintaan. Maklum, remaja hahaha 😉 and I used to really enjoyed sharing stories, seringkali aku akan menanggapi macam-macam, mulai dari mendukung temanku, ikut menjelek-jelekkan orang yg teman aku ga suka, ngasih saran, ngasih solusi, nyabarin temanku, apalah itu pokoknya.

And then I went to college and started studying psychology.

Disana, aku belajar tentang perilaku manusia dan proses mental yang mendasarinya. I’m not gonna give you a lecture about psychology. I will give you some points that actually matter to me. I learned that every single stimulus we give to another person will affect his/her life in some ways. That’s why we can’t treat people recklessly. Everything we do has consequences yg kita ngga tau apa. Mungkin efeknya langsung kerasa, mungkin baru berasa 10 tahun lagi, we’ll never know.

Di mata kuliah konseling, aku belajar untuk ngga asal dalam menanggapi cerita orang. Sebisa mungkin, kami disarankan untuk lebih banyak mendengar dan memahami, bukan menanggapi. Cara menanggapinya juga ribet, serius. Ngga boleh lah yg namanya asal ngejudge orang. As I said earlier, judgement dari kita bisa mempengaruhi cara berpikir orang lain yg nantinya mempengaruhi keputusan mereka dan ngga tau lah akan mempengaruhi apa lagi nantinya. Yg jelas panjang. Konseling juga ngga sama dengan konsultasi. Dalam konseling, kita bantu orang lain untuk paham apa masalah mereka, apa yg mereka rasain, dengan harapan nantinya mereka bisa punya solusi sendiri tentang apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalahnya.

That’s when being ‘temen curhat’ started to be so difficult for me.

Every time I listen to other people’s stories, I am torn. I can’t decide whether to act like a friend or a psychology student. I know they more likely to need me as a friend, but now that I’m a psychology student, I can’t just go back to being just friend. Ngga bisa lagi yg namanya ikut ngompor-ngomporin orang waktu curhat. Kadang masih sih, tapi cuma bisa sama sahabat-sahabat dekat yg udah bener-bener kenal luar dalam atau yaa sama anak psikologi juga. Apalagi kalau yg curhat itu orang yg ngga terlalu dekat sama aku, yg notabene aku ngga terlalu paham cerita hidupnya, pasti semakin bingung nanggapin gimana. Karena yaa aku ga terlalu paham masalahnya dan di psikologi itu apa-apa ‘tergantung’. Tergantung niatnya, tergantung akibatnya, tergantung sama siapa, dan lain-lain. Cerita yg awalnya simpel bisa jadi kompleks karena kebanyakan hal-hal yg aku pertimbangkan.

Sekarang, aku juga ngga bisa lagi asal-asalan ngasih saran sama orang. Pertama, who do I think I am? Aku mungkin belum pernah ada di posisi dia dan ngga tau sama sekali rasanya jadi dia. Gimana caranya mau ngasih solusi? Kedua, setiap orang itu beda. Walaupun aku pernah mengalami masalah yang sama, belum tentu solusi yg aku berikan cocok untuk dia. Ketiga, saran dari aku kan berpengaruh ke keputusan yang mereka buat, yg tentunya akan berpengaruh sama kehidupan mereka. And I’m so not ready for that kind of responsibility. Gimana kalau ternyata setelah ngelakuin saran dari aku masalahnya malah jadi semakin rumit?

Lihat kan, gimana hal sesimpel ‘curhat’ aja bisa jadi ruwet kalau sama anak psikologi? Hehehe.

So you see, the best thing I could do is to listen to their stories. And I mean, really listening. I give them my full attention and whatever it is we psychology students call ‘active listening’. But I don’t tell people what to do, especially if it’s about some major decision. Like the annoying psychology people we are, I ask questions. I made people think about their own problems and let them think. Sometimes, I share my personal experience to give them some insights. But, I am speechless when they start to ask me what to do.

Salah satu momen speechless aku sebagai teman curhat adalah waktu magang.

Jadi suatu sore, atasanku curhat tentang masalah rumah tangganya. It was awkward. Salah satu teman kerja yg lain yg udah menikah lebih lama ngasih saran ini itu yg semuanya ditolak karena dianggap ga sesuai sama masalahnya. Dari cerita yg aku dengar, aku ngerti apa yg dirasain atasanku ini. Memang sih, aku ga punya pengetahuan dan pengalaman yg cukup tentang kehidupan rumah tangga, yg justru bikin aku bingung harus nanggapin seperti apa. Mau bilang paham, nanti dibilang sok ngerti. But it was true, I could understand feelings. Jadi waktu itu aku cuma ngunci pintu ruangan dan dengerin, sesekali ngangguk-ngangguk atau senyum.

Sedih sih, kok kaya useless bgt gitu ada orang cerita masalahnya tapi ga bisa ngasih saran atau bantu apa-apa. But then again, seringkali yg dibutuhkan itu orang yg bisa jadi pendengar yg baik.

So, does it make me a good or bad ‘teman curhat’?

Ada yg punya pengalaman menarik tentang curhat-curhatan? Kindly share your experiences with me 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s